Dia arahkan tangannya, sedikit menjauh dari dagu. Sedetik kemudian terdengar dentuman jari tangan mulai menjamah untaian huruf-huruf yang tersusun rapi diatas kotak persegi empat berwarna hitam. Kotak yang beradu pandang dengan layar putih berukuran empat belas inci itu kini tertawa riang karena sudah dijamah dan dipukuli lagi.
Sebelumnya perempuan itu hanya terdiam, berteman tatapan kosong yang kejam. Persis seperti anak kecil yang tidak tau harus berbuat apa saat bonekanya hilang tiba-tiba saja. Hanya sepasang mata yang menerawang jauh menuju kekosongan. Raut wajah kusut semakin memperjelas guratan kelelahan.
Tapi itu tadi. Ia kini sudah beranjak dari keheningan. Duduk tegak dengan mata yang tidak lagi menerawang. Api liar mulai memenuhi rongga wajahnya yang perlahan berbinar-binar. Ia memaksa diri dan mengerahkan segenap tenaga di otaknya untuk membuat sebuah tulisan:
”Aku telah melakukan suatu keburukan menurut orang-orang kebanyakan. Telah banyak suara-suara sumbang yang tidak kupedulikan. Telah tumpah tangisan, telah habis sudut-sudut pertahanan. Kepalan tangan pun kurasakan demi sedetik kebahagiaan.”
”Aku harus mengakhiri babak sandiwara ini. Aku harus melepaskan diri dan tidak lagi bersembunyi. Aku harus membunuh musuh terbesarku, yang selalu mengganggu dan kerap kali membuatku bisu. Aku harus melawan rasa takutku..!”
"Sudah cukup aku menjadi palsu. Sudah cukup aku tanpa tempat mengadu. Tidak ada lagi kata 'demi kamu'. Tidak ada lagi aku yang lalu. Aku akan menghentikan seluruh perlawanan terhadap diriku. Aku akan memulai babak baru, dengan ataupun tanpamu..."
.:.pipi in frame.:.
from: http://pipipego.multiply.com/journal/item/208/Aku_Yang_Lalu
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment