Thursday, January 22, 2009

Loyalty, Honor and Betrayal

In the blistering cold of mind...
Lot things to do nothing to get...
Not even a clue of way to pass...
Just promises followed by a blind hope...

The promises became unclear…
Covered by uncertain circumstances…
Forced hope to get fading…
More and more as days gone by…

Then, Loyalty come arrived…
Radiated hope to glow again…
Giving its best waiting promises shine again…
But yet, promises are nowhere to come…

Loyalty, giving up…
The light started to get dreary…
When all the hope started to gone…
Honor kicking, helping loyalty with a new spirit…

How long will honor stands kicking?
As the vision of betrayal slowly started to rise…
Peeking from a darkest side of a man…
When honor raise both hands, is there anything left behind?

People said:
“Love is more than enough to keep a man kind living”
I said:
Cut the bullshit! Reality is more than a love can handle!

People said:“
When there is a will, there must be a way”
I asked:
Now, please, does anybody can show me the way?

Again they said:
“God will never tested a man more than a man can get”
I said:
Damn true! But then, how much I can get? What is the boundary?

Last... Poetry said:
“Man can only do their best, until his destiny revealed”
Then:
I would do my best, keeping the hope inside, help honor kicking…
Until the Hand of Heaven revealed my destiny, my faith…

Meanwhile…Let me stand in silent for a while…
Hiding, far beyond any black clouds…
Doing what I love, without any promises…

Asking for my self:
What will happened in a half of moon period…




.:.Alun in frame.:.
from: http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=50236932521&ref=mf

Tuesday, December 16, 2008

Tanggungjawab, Keyakinan, Cinta dan Takdir

Kau datang membawa dahaga
Akan sebuah kehangatan dalam perlindungan
Selamat datang ! Seruku
Dan aku akan bertanggung jawab

Kau tawarkan cinta
Aku terdiam, bukan waktunya
Cinta harus bertanggung jawab
Dan tanggung jawab perlu keyakinan

Hingga tiba di satu batas
Rasa itu menguat, mengusik hati
Tak bisa kutunjukkan, tetapi
I Love U, lebih dari yang kau tahu

Ya Allah,
Apakah dia takdirku ?



*Jakarta, 17 Desember 2008





.:.LeapFrog in frame.:.

Sampai Kapan Kita Berdialektika

Tempo hari aku masih ceria. Ia ada di sana. Kami memuji-muji langit senja bersama, dan berkata 'senja akhir-akhir ini demikian memesona'. Hatiku berbisik, 'ini semua sempurna, karena kau ada di sini'. Sesekali jemari mungilnya menggelitiki perutku yang buncit dan aku pun tertawa. Bahagia. Tapi bukan hari ini.

Tempo hari aku masih ceria. Ia belum lagi ada di sana. Aku dan keluarga menikmati senja di Pantai Marina. Aku dan adek membangun sebuah istana. Sebelumnya istana itu tak ada. Kami penciptanya. Dalam perjalanan pulang aku cemas, karena aku tahu ombak akan membuat istana itu kembali tiada. Tapi Ayah membelikanku campina. Dan secepat itu aku mampu kembali ceria. Tapi bukan hari ini.

Tempo hari aku belum lagi ada di sini. Entah di mana. Barangkali saat itu Ayah dan Ibu sedang mempersiapkan sebuah nama. Mungkin sedang memuji-muji langit senja berdua. Atau bahkan belum lagi bersua dan masih sibuk menyelesaikan pe-er matematika. Tapi bukan hari ini.

Hari ini aku melihat Ayah, Ibu, dan adekku masih ada. Mereka semua memang semakin menua. Rupa mereka tak lagi sama. Tapi mereka masih punya raga. Ruap-ruap keringat yang khas masih bisa kucium dari pori-pori tubuh mereka. Tapi belum tentu hari esok.

Hari ini juga aku tak merasakan gelitikan di perutku yang buncit oleh tangan-tangan mungil yang kusuka. Senja hari ini adalah senja yang kulalui dengan menyusuri jalan-jalan ibukota sendirian dengan perasaan belum lagi terbiasa. Tapi belum tentu hari esok.

Hari ini aku masih menapaki dunia. Mataku masih terbuka dan menangkapi semua citra. Jantungku masih berdegup seolah menghitung mundur hingga saat yang tak pernah kuduga. Tapi belum tentu hari esok.

Tapi ... tempo hari, hari ini, dan hari esok aku adalah seorang pembelajar yang dalam proses untuk menjadi lebih baik. Huh, ucapan yang klise dari mulut seorang manusia. Tapi entah kenapa itu tak semudah ketika terucap. Iyah. Mungkin benar bahwa 'ada kedalaman yang tak bisa kuselami, ada ketinggian yang tak bisa kulintasi'. Mengaku memang satu hal yang paling berat. Padahal dengan mengaku aku bisa mengenali diri sendiri. Apa yang aku bisa dan apa yang tak. Dan dengan mengenal diri sendiri aku bisa mengenal siapa yang maha bisa. Mengakulah hei aku! Mengaku! Asyhadu anlaa... (Ya ampun beratnya).

Tempo hari aku berkata, 'mungkin ini tulisan terakhirku di sini'. Tapi bukan hari ini





.:.jakamudaberbicara in frame.:.
from:http://dalam-diam.blogspot.com/2007/04/sampai-kapan-kita-berdialektika.html

Kisah Capung dan Kupu

Capung bersayap retak tertatih-tatih seberangi lautan kasih
Membawa peluk dan cium untuk coba tenangkan hati
Kupu-kupu berurai air mata terseret angin kerinduan
Iringi setiap langkah untuk coba sembuhkan luka
Kepayahan terbang karena kini harus berkelana sendiri
Berjuang melawan awan kehidupan yang kian terasa gelap

Kita tidak pernah berbuat salah
Kita hanya berbeda
Biarkan mimpi ini truskan tinggal di hati
Karena cinta tidak pernah salah


Thanks to my YM



.:.gadismetropolitan in frame.:.
from:http://nanakecil.blogspot.com/2007/04/kita-tidak-pernah-berbuat-salah-kita.html

I am Walking Barefoot

Once I worried about a thing,
I wrote the worry on a thing.
It’s really nothing,
But it meant everything.

I needed to walk barefoot.
I can’t stand wearing shoes, sandals, let alone boots.
No one understood,
Oh, shoot!

They forced me wearing the new pair of shoes.
They said it must fit,
And I should like it.
Which, I did.

Those new pair of shoes…
They looked neat.
I could’ve acted liking it,
But, really, it won’t fit.

I tried liking those shoes!
They just won’t fit!
Then they called me twit.
Made me felt like a broken-legged athlete.

What was I supposed to do?
I needed being barefoot for a while.
Really, it was just for while.
Why forcing me in everything I do?

Something came out of the blue.
I knew nothing but my gloomy heart gone blue.
It never asked me about all those blue.
It stayed, played and brought light in to my blue.

It is my light blue,
The light that caught my blue while doing a shoot,
It feels good not having to give clue,
And still got asked-on walking barefoot!



Yogyakarta,
9 December 2008



*An answer to an earlier poem called Barefoot.







.:.Grace in frame.:.
from: http://gracesamboh.multiply.com/journal/item/145/I_Am_Walking_Barefoot




Semalam

2 detik….gak sengaja ngliat kamu yang berlumur peluh sedang mewajarkan posisi benda besar itu dengan bantuan tangan dan pikiranmu.

1 detik… aku terkesiap dan penasaran..hatiku meminta untuk mengulang melihatmu kembali.

5 detik…aku berusaha memperhatikan semua sembulan kasar urat wajahmu….beda!
Ga tau itu apa…ga tau mana yang beda..

Aura wajahmu dingin dan sedang tidak berminat mengajakku untuk bercumbu dan bercanda…

Walaupun aku jadi merasa tak mengenal mu dengan baik, tapi aku suka menikmatinya.

Saat kamu bermain dalam pikiranmu.. atau ada yang sedang mengganggu pikiranmu….karena dalam dua hari ini aku lihat kebisuan tengah berbicara di antara kita





.:.moonelectra in frame.:.

Barefoot

Barefoot.
I need to walk barefoot.
Just for a while.

My old pair of shoes.
I want them.
Seems broken, though.
But, I want themThey might be out of date.
But, I have my own calendar.

Those new pair of shoes,I like them.
They look shiny.They look nice.
Really, I like them.
But, they don't fit.

Those new pair of shoes,I tried on.
I liked them.Really, I do.
They just won't fit.H
ow about going barefoot for a while?


***Inspired by:Holly Kennedy and William in PS: I Love YouAsh in Walking Barefoot







.:.Grace in frame.:.
from: http://gracesamboh.multiply.com/journal/item/72/Barefoot